Wednesday, June 17, 2020

[matrikulasi batch 8] Connecting The Dots




Seperti apa aku ini?

saya adalah seorang ibu yang diamanahkan oleh Allah 3 orang anak yang insyaAllah bahagia memiliki saya sebagai ibunya. saya menyadari dan yakin sekali bahwa apapun yang ditakdirkan untukku oleh Allah adalah jalan untuk saya menjadi lebih baik dan memudahkan saya untuk beribadah kepadaNya... ketika saya menjadi seorang ibu, rasanya semua berubah. visi misi hidupku berubah 100%. banyak hal yang kutata seperti mimpi-mimpiku dan goal-goal dalam hidupku harus berubah seratus delapan puluh derajat. akupun kembali memikirkan visi misi hidupku dengan melibatkan dan mempertimbangkan pasangan, dan anak-anakku. sejak dulu aku adalah orang yang memiliki daya juang yang tinggi, aku akan mengejar cita-cita dan tujuan hidupku sekeras mungkin, berusaha lebih baik dari hari ke hari semaksimal mungkin , aku selalu ingin berlari lebih cepat dari orang lain. hal ini tetap kupertahankan meskipun aku telah menjadi ibu. karena itu setelah Allah memilihku menjadi hambaNya yang memiliki tanggung jawab berupa amanah 3 orang anak, akupun memilih untuk fokus membersamai dan menjalankan tanggung jawab utamaku, aku rela meninggalkan tujuan dan profesiku sebelumnya, karena aku yakin tanggungjawab yang diberikan Allah adalah yang utama. aku yakin Allah memercayaiku sehingga aku tak boleh menghianati kepercayaan Allah kepadaku. 

meskipun begitu, banyak kesulitan-kesulitan yang tentunya ku hadapi dalam perjalananku menjadi ibu, namun aku akan terus maju, berusaha, belajar sebaik mungkin dan mencari solusi-solusi dari permasalahanku ke ahlinya, juga aku selalu menyadari, bahwa manusia memiliki banyak kekurangan, ketika aku salah, aku akan memaafkan diriku, dan bangkit kembali untuk belajar lagi sehingga bisa melewati ujian demi ujian di dunia ini. 

ketika aku lelah menghadapi kesibukan rumah tangga, 
aku selalu teringat 2 hadist ini 


Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad, 1: 191; Ibnu Hibban, 9: 471. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih



Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu.” (QS Al-Ahzab: 33).


masyaAllah... apalagi yang aku cari, menjadi ibu dan istri adalah jalan menuju surga. bahkan Allah telah memilihku dengan titipanNya yang masyaAllah. aku harus memperbanyak ikhlas dan syukur. 


Apa yang membuatku unik?

  • saya suangaaaattt mencintai kebersihan, dan kerapihan, saya tidak bisa melihat sesuatu yang tidak pada tempatnya. namun setelah memiliki 3 anak , saya berusaha untuk mengurangi sifat ini. 
  • jika saya berpendapat, apalagi ada dasarnya, saya akan sulit digoyahkan. saya akan selalu speak up hingga keinginan saya terpenuhi, saya pun berusaha mengambil sisi positif dari sifat ini, dan menekan sekuat mungkin sisi negatifnya
  • saya menyukai kesederhanaan, tampil apa adanya dan tidak suka melebih-lebihkan sesuatu
  • perfeksionis, saya menyukai hal-hal sederhana namun harus sempurna, bingung juga ya. intinya meskipun sesuatu itu sederhana, saya nggak suka jika tidak sempurna. makanya pasangan saya selalu mengeluh jika membantu pekerjaan rumah tangga saya, karena saya akan mengulang lagi-mengulangi lagi, karena saya merasa belum sesuai ekspektasi saya. hal ini terus saya kurangin sih :(
  • sensitif, yes saya suangaaaat sensitif, saya akan menangis jika melihat orang lain susah atau melihat kesedihan orang lain, :(. bahkan sensitif saya ini bisa menjadi hal yang buruk jika berkaitan dengan emosi marah , pasangan saya menjadi pelampiasan utama, terkadang hal-hal remeh pun bisa memancing emosi saya. ahh saya mestinya lebih banyak bersabar yah. 
  • mood selalu tidak stabil (berubah-ubah) alias moody, apakah ini termasuk keunikan? semoga saja :D, sampai skrg berusaha untuk mengambil sisi positifnya. 
  • suka hal-hal yang serius, saya sangat tidak menyukai bercanda berlebihan, hehe, tapi sewajarnya saja dan tidak dalam waktu yang lama, bahkan kalau nonton film yang serius saya bisa berjam-jam melek. kalau sejenis romcom, weww saya bisa ketiduran sebelum film selesai. hahahah . 
  • saya ekstrovert jika sudah mengenal orang, tapi suangattt introvert dengan orang baru atau orang yang sekali-sekali ketemu 

Nilai-nilai apa yang aku miliki?

  1. sangat menghargai kejujuran. sejak kecil di keluarga kami ditanamkan kejujuran. sehingga sayapun telah terbiasa untuk selalu menghargai kejujuran, sekecil apapun itu.
  2. kebaikan kepada orang lain, ketika melihat teman dekat atau keluarga atau orang lainpun yang kesusahan, saya berusaha untuk sebisa mungkin membantu. hal ini juga selaras dengan ajaran islam insyaAllah
  3. mindset optimis dan keinginan untuk berkembang, pola pikir optimis dan selalu ingin berkembang dari hari ke hari adalah nilai yang selalu usaha saya ingat setiap hari, yaa meskipun kadang-kadang lupa juga heheh
  4. berusaha selalu memaafkan, meskipun terkadang sulit. saya akan terus berusaha untuk selalu memaafkan. karena saya yakin pikiran saya sehat jika saya terus memaafkan. 
  5. saya suka berbagi, apapun yang saya miliki, baik pengalaman, ilmu ataupun harta saya senang jika bermanfaat bagi orang lain. di dalam islam, adalah sedekah.
  6. saya sangat yakin dengan takdir Allah, apapun yang telah Allah gariskan, saya berusaha untuk selalu menerimanya dengan lapang dada. jadi sejauh apapun saya berlari ketika saya gagal saya tidak semata langsung down, karena saya tau ini telah takdir Allah, namun saya pantang menyerah.

Apa yang aku perjuangkan?
  1. menuntut ilmu syar'i sekuat mungkin, agar bisa mengenalkan Allah kepada anak-anak dan membantu mereka hingga mampu memenuhi tujuan hidup manusia yaitu semata-mata beribadah kepada Allah
  2. kebahagiaan dan kemampuan keluarga untuk menikmati indahnya islam sehingga bahagia dalam menjalani hidup
  3. keselamatan di dunia namun yang paling utama adalah keselamatan di akhirat
  4. mengenalkan tauhid sedini mungkin, berharap anak-anak dan pasangan menjaga tauhidnya di sepanjang hidupnya insyaAllah
  5. menjadi ibu yang bermanfaat untuk anak-anak, menjadi istri yang baik untuk suami, dan hebat mengelola keluarga. aamiin
  6. menjadi orang yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

Apa kesamaanku dengan institut ibu profesional?

Core Value IIP

  1. Belajar
  2. Berkembang
  3. Berkarya
  4. Berbagi
  5. Berdampak

Karakter moral IIP
  1.  never stopped running, the mission alive
  2. dont teach me, i love to learn
  3. i know, i can be better
  4. always on time
  5. sharing is caring

karakter moral dan core value institut ibu profesional sangat sesuai dengan diri saya meskipun saya belum terlalu konsisten menjalankannya, namun dengan belajar di institut ibu profesional saya berharap lebih optimis, dan konsisten lagi insyaAllah









depok, 17/6/2020
pukul 16:24
menulis bersama keriuhan 3 krucil, nyambi membersamai mereka masyaAllah :D


















Friday, June 12, 2020

I Know I Can Be Better (Misi 6 Kelas Matrikulasi)

Gambar mungkin berisi: teks yang menyatakan '#navigasidanberaksi Matrikulasi Institutlbu Profesional Aku punya tantangan selama berproses dan menjalani peran kehidupan yaitu: Tapi ternyata, dalam diriku ada karakter moral ibu profesional yang menjadi kekuatanku. Ini kisah dan caraku untuk mengatasi tantangan tersebut:'


bismillah...
Aku punya tantangan selama berproses dan menjalani peran kehidupan yaitu: mengatasi inner child akibat luka pengasuhan.
Tapi ternyata, dalam diriku ada karakter moral ibu profesional yang menjadi kekuatanku yaitu i know i can be better. Ini kisah dan caraku untuk mengatasi tantangan tersebut.

aku menikah diumur 21 tahun saat aku masih sementara menyelesaikan kuliah profesiku, bukanlah karena keinginanku, tetapi keinginan orangtuaku. sampai saat inipun aku belum diberitahu alasan orangtuaku ingin menikahkan aku lebih cepat dibanding teman-teman sebayaku. aku pikir yah mungin orangtuaku terus khawatir karena anak gadisnya sekolah dan kuliah di perantauan jauh dari pengawasannya... awalnya aku menolak, aku ingin berkarir, aku ingin melanjutakan kuliahku ke jenjang yang lebih tinggi. namun keinginan orangtuaku tak dapat kubendung karena ada beberapa laki-laki yang ingin meminangku. hingga akupun menikah, dan alhamdulillah di karuniai 3 anak dengan jarak yang berdekatan.

ketika anak pertama hadir di tengah-tengah kami, akupun mulai berpikir aku harus menjadi ibu yang baik bagi anak-anakku. akupun belajar sana sini parenting dan ilmu2 lainnya... alhamdulillah Allah mengaruniakan  perasaan yang pasti semua ibu pun merasakannya saat memiliki buah hati. aku tak tega meninggalkan anakku sedikitpun. pupus sudah harapanku untuk melanjutkan karir. aku ikhlas karena aku yakin Allah menakdirkan seperti inilah jalanku, dan aku harus bisa bertanggungjawab.

suami terkadang menanyakan, apa aku benar-benar yakin ingin berkarir sebagai ibu rumah tangga? karena beliau sangat mengenal diriku, aku aktivis di kampus, aku benar-benar kuliah dengan target IPK yang tinggi (IPK lulus ku 3,8) aku pun mendapat banyak beasiswa saat kuliah.

namun aku tetap kekeuh aku tak tega jika akan menitipkan anakku ke orang lain, bahkan ke orangtua sekalipun. aku ingin mendidik mereka dan ingin melihat pertumbuhan dan perkembangan sedetail mungkin.

tak kusangka selama berproses menjadi ibu rumah tangga yang baik, aku ternyata menyimpan luka pengasuhan, aku memperoleh pengetahuan ini. karena setelah aku memiliki anak 3 dengan jarak berdekatan , aku lebih mudah emosian, mungkin karena kesibukan yang tak pernah selesai. namun Alhamdulillahnya karena aku mengetahui ilmu parenting mengenai cara kita bersikap ke anak, seperti tidak boleh marah2, tidak boleh memukul sekesal apapun, harus mengkomunikasikan apapun dengan baik ke anak2. aku bisa menahan semuanya, namun itu ternyata bukanlah akhir, aku ternyata tak bisa mengelola emosiku dalam menghadapi pasanganku, kesalahan kecil pun yang dilakukan pasanganku aku bisa marah besar, yah meskipun sejauh ini jika ada anak-anak aku tetap menahannya hingga anak-anak tertidur lelap. aku bisa marah-berantem- hingga subuh :(
sesungguhnya bukan berantem, aku yang ngomel sendirian. aku juga tak mengerti mengapa aku bisa seperti ini, di depan anak-anak aku bisa menahan em  osi sebaik mungkin, namun terhadap pasangan aku berantakan. aku tak bisa menahan emosiku. lantas aku mencari tau, aku kok bisa seperti ini.

akupun mencari-cari tau. hingga aku dipertemukan buku ini...


yes, aku akhirnya sadar, kesulitanku mengolah emosi akibat dari luka pengasuhan saat aku kecil. aku dibesarkan oleh ibu yang mudah sekali emosi, sering dipukul dan dicubit. namun lebih banyak lagi kok kebaikan ibuku yang lain, aku pun mulai belajar memaafkan kejadian-kejadian yang telah berlalu dan belajar mengendalikan emosiku juga bersyukur Allah berikan pasangan yang mau memahami keadaanku.

dan inilah saya yang masih terus berproses menjadi lebih baik cause i know i can be better dan alhamdulillah saat ini kemampuanku mengolah emosi telah melesat jauh, semoga aku tetap istiqomah. mohon doanya yah kawan-kawan semuanya. 



depok, 12 Juni 2020
pukul 15.22


-di tengah keriuhan 3 krucil-