
bismillah...
Aku punya tantangan selama berproses dan menjalani peran kehidupan yaitu: mengatasi inner child akibat luka pengasuhan.
Tapi ternyata, dalam diriku ada karakter moral ibu profesional yang menjadi kekuatanku yaitu i know i can be better. Ini kisah dan caraku untuk mengatasi tantangan tersebut.
aku menikah diumur 21 tahun saat aku masih sementara menyelesaikan kuliah profesiku, bukanlah karena keinginanku, tetapi keinginan orangtuaku. sampai saat inipun aku belum diberitahu alasan orangtuaku ingin menikahkan aku lebih cepat dibanding teman-teman sebayaku. aku pikir yah mungin orangtuaku terus khawatir karena anak gadisnya sekolah dan kuliah di perantauan jauh dari pengawasannya... awalnya aku menolak, aku ingin berkarir, aku ingin melanjutakan kuliahku ke jenjang yang lebih tinggi. namun keinginan orangtuaku tak dapat kubendung karena ada beberapa laki-laki yang ingin meminangku. hingga akupun menikah, dan alhamdulillah di karuniai 3 anak dengan jarak yang berdekatan.
ketika anak pertama hadir di tengah-tengah kami, akupun mulai berpikir aku harus menjadi ibu yang baik bagi anak-anakku. akupun belajar sana sini parenting dan ilmu2 lainnya... alhamdulillah Allah mengaruniakan perasaan yang pasti semua ibu pun merasakannya saat memiliki buah hati. aku tak tega meninggalkan anakku sedikitpun. pupus sudah harapanku untuk melanjutkan karir. aku ikhlas karena aku yakin Allah menakdirkan seperti inilah jalanku, dan aku harus bisa bertanggungjawab.
suami terkadang menanyakan, apa aku benar-benar yakin ingin berkarir sebagai ibu rumah tangga? karena beliau sangat mengenal diriku, aku aktivis di kampus, aku benar-benar kuliah dengan target IPK yang tinggi (IPK lulus ku 3,8) aku pun mendapat banyak beasiswa saat kuliah.
namun aku tetap kekeuh aku tak tega jika akan menitipkan anakku ke orang lain, bahkan ke orangtua sekalipun. aku ingin mendidik mereka dan ingin melihat pertumbuhan dan perkembangan sedetail mungkin.
tak kusangka selama berproses menjadi ibu rumah tangga yang baik, aku ternyata menyimpan luka pengasuhan, aku memperoleh pengetahuan ini. karena setelah aku memiliki anak 3 dengan jarak berdekatan , aku lebih mudah emosian, mungkin karena kesibukan yang tak pernah selesai. namun Alhamdulillahnya karena aku mengetahui ilmu parenting mengenai cara kita bersikap ke anak, seperti tidak boleh marah2, tidak boleh memukul sekesal apapun, harus mengkomunikasikan apapun dengan baik ke anak2. aku bisa menahan semuanya, namun itu ternyata bukanlah akhir, aku ternyata tak bisa mengelola emosiku dalam menghadapi pasanganku, kesalahan kecil pun yang dilakukan pasanganku aku bisa marah besar, yah meskipun sejauh ini jika ada anak-anak aku tetap menahannya hingga anak-anak tertidur lelap. aku bisa marah-berantem- hingga subuh :(
sesungguhnya bukan berantem, aku yang ngomel sendirian. aku juga tak mengerti mengapa aku bisa seperti ini, di depan anak-anak aku bisa menahan em osi sebaik mungkin, namun terhadap pasangan aku berantakan. aku tak bisa menahan emosiku. lantas aku mencari tau, aku kok bisa seperti ini.
akupun mencari-cari tau. hingga aku dipertemukan buku ini...
yes, aku akhirnya sadar, kesulitanku mengolah emosi akibat dari luka pengasuhan saat aku kecil. aku dibesarkan oleh ibu yang mudah sekali emosi, sering dipukul dan dicubit. namun lebih banyak lagi kok kebaikan ibuku yang lain, aku pun mulai belajar memaafkan kejadian-kejadian yang telah berlalu dan belajar mengendalikan emosiku juga bersyukur Allah berikan pasangan yang mau memahami keadaanku.
dan inilah saya yang masih terus berproses menjadi lebih baik cause i know i can be better dan alhamdulillah saat ini kemampuanku mengolah emosi telah melesat jauh, semoga aku tetap istiqomah. mohon doanya yah kawan-kawan semuanya.
depok, 12 Juni 2020
pukul 15.22
-di tengah keriuhan 3 krucil-

No comments:
Post a Comment