![]() |
| gambar dari sini |
Kemarin kami pergi ke rumah teman ayahnya anak-anak. saya sounding mereka sebelum pergi. kalau dirumah orang kita harus duduk aja ikut ayah dan bunda, nggak boleh lari-larian, kalau ada makanan disuguhin boleh ambil tapi izin dulu sama bunda. karena temen ayahnya juga punya anak sepantaran anak saya jadi sy ingatkan juga, nanti kalau temannya punya mainan nggak boleh direbut ya, kan alkindi qonitah udah punya mainan sendiri di rumah. mainan temen juga bukan punya kita. nanti kalau mau pinjam ijin dulu.
sebenarnya bukan hanya kali ini sih saya ngajari mereka untuk selalu ijin apapun itu, karena di rumahpun mereka memang ijin terus sebelum pegang barang saudaranya atau barang bunda. kecuali memang yang milik mereka sendiri. jadi mungkin karena sudah terbiasa.
saat kami kemarin mengunjungi teman ayahnya, anak-anak alhamdulillah anteng banget, yaa dari dulu juga mereka anteng sih hehehehe...
dulu sih saya nggak paham ya, kok ada anak-anak yang kalau ada tamu atau ada orang lain suka ganggu, suka melakukan hal-hal yang menarik perhatian, istilahnya awamnya "nakal" kalau lagi ada orang lain atau ke rumah orang. saya nggak pahamnya, kok anak-anak saya nggak pernah seperti ini. apa penyebabnya ya. kok anak-anak saya berbeda.
Nah kemarin di grup parenting yang saya ikuti dibahas tuh dan ini ternyata ilmu kunci yang meskipun saya belum paham banget istilah-istilahnya, tapi memang selama ini saya aplikasikan ke anak-anak.
jadi ilmu kuncinya itu, kita kita mulai dari sini: Jadi anak-anak bahkan kita yang dewasa itu memiliki namanya kantung jiwa. kantung jiwa ini adalah wadah pengukuran pemenuhan kebutuhan emosi seseorang.
Kantung jiwa/seperti tangki yang isinya adalah cinta/bonding/kelekatan (attachment) dari orang-orang terdekat. Ketika berumur dibawah 17 tahun isinya adalah ibu, ayah, kakek, nenek, om dll. Paling besar adalah Ibu dan Ayah. kira-kira jika dipresentasikan ibu 50%, ayah 40%, kakek nenek, om tante paling cuma 10%.
Nah pertanyaannya gimana membedakan anak ini kantung jiwanya penuh atau nggak? ternyata mudah banget, untuk anak-anak mengukur kantung jiwa ini penuh atau nggak. kalau ada anak yang suka "nakal" mencari perhatian, gelendotan atau ndusel-ndusel ke kita. itu berarti kantung jiwa mereka belum penuh. cara ngisinya
- tunjukkan rasa cinta tentu paling baik dengan komunikasi produktif dengan membahasakannya ke anak-anak kalau saya sering sekali saya memeluk anak-anak dan mengatakan kalau ayah dan bundanya sayang banget ke mereka,
- tingkatkan bonding dengan segera menemani mereka saat mereka butuh/memanggil (karena anak-anak dibawah 3 tahun itu butuh namanya instant availability/keberadaan yang instant)
- pahami perasaan anak.
- jadilah pendengar aktif
- baca bahasa tubuh anak, kenali gerak tubuhnya.
- jangan tergesa-gesa ingin anak-anak mengerti, berikan waktu karena mereka masih anak-anak, kita aja yang dewasa suka sulit diberitahu yaa.
- oh ya tinggalkan 12 bahasa populer yang sering dilakukan orangtua. (nanti saya akan buat tulisan lain terkait ini)
- terakhir selalu doakan anak kita
nah, kalau anak-anak yang kantung jiwanya penuh dia nggak akan "cari perhatian", pasti anteng main sendiri, nggak merengek-rengek atau gelendotan ke orangtuanya. tentu karena porsi kantung jiwa terbesar adalah ibu, jadi ibu yang menentukan kantung jiwa ini.
nah ada orang yang besar tanpa sosok ibu maka kelas sudah dewasa ketika bertemu ibunya dia tidak mau bercerita seperti anak dan ibu (ngalamin nggak?).
semoga kita bisa menjadi orangtua yang "baik dan benar" untuk anak-anak kita. aamiin
Bintangku hari ini
🌟🌟🌟🌟🌟
Depok, 17 September 2020 pukul 10:47
With Love Bunda Icha 💋💜
#harike-15
#zona1komprod
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia

No comments:
Post a Comment